Selasa, 15 Mei 2012

RIP Carlos Fuentes


Sebuah pesan masuk pukul 2.31 dini hari tadi mengabarkan Carlos Fuentes telah tiada. Dialah penulis Amerika Latin yang paling subtil dalam memadukan antara yang-estetik dengan yang-politik. Novel-novelnya adalah gambaran gejolak sebuah subbenua yang mengusung beban berat sejarah, yakni sejarah penjajahan sekaligus sejarah kemajuan yang dihadirkan oleh kolonialisme Eropa dan AS. Atau seperti kata Milan Kundera saat menyanjung mahakarya Fuentes Terra Nostra (1975), "bagaimana waktu historis Barat menyela waktu Indian di Amerika Latin." Fuentes sadar betul posisi intelektual publik dalam masyarakat seperti Meksiko, karenanya sebagai penulis ia tak menarik diri dari politik. Bahkan sampai wafatnya semalam pada usia 83 tahun Fuentes masih menulis soal peralihan politik di Perancis. Buku-buku Fuentes termasuk yang terbanyak yang menyesaki rak buku saya ¡Adiós, Maestro!



Rabu, 04 April 2012

Carmen Balcells: Penggerak Sesungguhnya “Boom” Sastra Amerika Latin


Ketika berbicara tentang boom sastra Amerika Latin –fenomena lonjakan penjualan dan minat publik pada karya sastra Amerika Latin baik dalam bahasa Spanyol maupun terjemahan yang terjadi pada era 1960-1970-an—kebanyakan pengamat dan pembaca hanya berbicara tentang para penulis yang menonjol dari era tersebut, terutama, sebutlah, Gabriel García Márquez, Mario Vargas Llosa, Carlos Fuentes, dsb. Seakan-akan hanya dari tekad, perjuangan, dan kualitas para penulis inilah sastra Amerika Latin bisa dikenal dunia. Kebanyakan pembaca di Indonesia misalnya, nyaris tak mengenal nama Carmen Balcells. Dia memang bukan penulis, “hanya” seseorang yang bekerja di balik layar sebagai agen sastra. Namun tanpa dia, boom sastra Amerika Latin bisa dipastikan tak akan terjadi. Mempelajari apa yang dilakukan Balcells sesungguhnya bisa sangat berguna apabila kita hendak serius mengangkat sastra Indonesia ke pentas dunia.

Carmen Balcells Segalà dilahirkan pada 9 Agustus 1930 di Santa Fe de Segarra, kota kecil dengan penduduk hanya sekitar 50 orang di provinsi Lérida, sebelah timur laut Spanyol yang masuk dalam wilayah otonom Katalunya. Pada usia 16 tahun ia pindah ke Barcelona dan bekerja di sana. Persentuhannya dengan dunia sastra sebenarnya baru terjadi pada 1954, ketika Balcells pindah kerja dari sekretaris di pabrik tekstil menjadi perwakilan Barcelona untuk agensi sastra ACER milik penulis Rumania, Vintila Horia. Balcells segera dikenal dan disukai oleh para penulis karena dengan keras ia memperjuangkan hak-hak penulis dari kesemena-menaan penerbit yang hanya cari untung. Ia membuat kontrak penerbitan menjadi lebih adil bagi kedua pihak.

Setelah dua tahun menimba pengalaman di ACER, pada 1956 Balcells merasa siap membuka agensinya sendiri di Barcelona, dan dari situlah boom sastra Amerika Latin sesungguhnya bermula. Balcells melihat potensi luar biasa para penulis Amerika Latin, dan ia jajakan buku-buku mereka ke penerbit-penerbit Spanyol serta Eropa lainnya untuk diterjemahkan. Itu sebabnya Barcelona sering dijuluki sebagai “ibukota sastra Amerika Latin.”

Hingga kini tak kurang dari lima peraih Hadiah Nobel Sastra besar dalam naungannya: Mario Vargas Llosa, Gabriel García Márquez, Camilo José Cela, Pablo Neruda, Miguel Ángel Asturias, dan Vicente Aleixandre. “Carmen Balcells Agencia Literaria S.A.” juga menjadi wadah bagi para penulis sohor Amerika Latin lainnya (seperti Augusto Roa Bastos, Carlos Fuentes, Isabel Allende, José Donoso, dll) serta para penulis besar Spanyol (seperti Manuel Vázquez Montalbán, Juan Goytisolo, Rafael Alberti, Ana María Matute dll).

Carmen Balcells di depan lukisan potret dirinya karya Gonzalo Goytisolo
Foto: M. Sàenz / El País

Tentunya, Balcells tak bisa mencapai ini tanpa atmosfer zaman itu yang memang mendukung, yakni tumbuhnya kesadaran akan Amerika Latin sebagai sebuah kesatuan politik, bukan semata-mata geografis, serta tampilnya Amerika Latin sebagai kekuatan politik yang menonjol pasca digulingkannya kedikatoran Batista oleh pasukan gerilya Fidel Castro di Kuba.

Sebelum 1960, bisa dibilang tak ada “kesadaran Amerika Latin”—yang ada hanyalah negara-negara kecil di selatan benua Amerika yang saling memusuhi satu sama lain, meskipun memiliki kesamaan bahasa (Spanyol) dengan variasi dialek lokal dan nasionalnya masing-masing. Seperti dibilang oleh novelis Cile José Donoso dalam memoarnya tentang masa-masa boom: “Sebelum 1960 sangat tidak lazim mendengar orang bicara tentang ‘novel Amerika Latin kontemporer’. Adanya hanya novel Uruguay atau Ekuador, novel Meksiko atau Venezuela. Novel tiap-tiap negara terkurung dalam batas-batas negaranya saja, ketenaran atau relevansi sebuah novel dalam banyak kasus hanya menjadi perkara lokal.”[1]

Semua ini berubah dengan meletusnya Revolusi Kuba. Kemenangan Castro membuat negara-negara Amerika Selatan mulai melihat dirinya sebagai satu kesatuan politik yang mengalami rute historis yang serupa. Dukungan pada Castro menyatukan kaum intelektual negara-negara Amerika Selatan dan menumbuhkan rasa sebagai satu “Amerika Latin”. Seperti ditulis Donoso, suasana Kongres Intelektual di Concepción, Cile, pada 1962, dipenuhi semangat dukungan pada Kuba oleh provokasi novelis Meksiko Carlos Fuentes yang menyatakan bahwa Amerika Latin kini hanya bisa berpaling pada Kuba, dan bahwa di Amerika Latin “sastra dan politik tak terpisahkan.”[2] Donoso juga mengenang bahwa pada kongres itulah ia pertama kali berkenalan dengan Fuentes, sementara nama-nama (yang kini) besar seperti García Márquez, Vargas Llosa, bahkan Jorge Luis Borges dan Juan Rulfo, tak disinggung-singgung sama sekali karena tak banyak orang mengenal mereka.[3] Dengan demikian bisa disimpulkan, bahkan pada tahun 1962 itu pun, para sastrawan Amerika Latin masih belum saling membaca karya sastra antar negara mereka.

“Sastra Amerika Latin” baru mewujud ketika karya-karya dari Amerika Latin diboyong ke Barcelona untuk diterbitkan di Spanyol dan negara-negara Eropa lainnya. Para penulis Amerika Latin yang berkumpul di Barcelona mulai membaca satu sama lain dan merasa diri sebagai satu kesatuan yang mengemban proyek literer-politik yang sama. Kita bisa melihat sekilas kemiripan situasi ini dengan analisa Ben Anderson tentang kemunculan nasionalisme Indonesia atau Filipina, di mana justru di negara induklah (Belanda dalam kasus Indonesia dan Spanyol dalam kasus Filipina), orang-orang buangan dari negara kolonial merasa sebagai satu kesatuan untuk lalu membentuk proyek nasionalisme.

Pada sisi lain, kemenangan Castro dalam Revolusi Kuba juga menumbuhkan minat dunia pada subbenua tersebut, terutama kecemasan AS terhadap meluasnya komunisme di benua Amerika. Amerika Latin mulai dipandang sebagai sebuah kekuatan (kalau bukan ancaman) ekonomi-politik yang sedang berkembang. Segala tulisan yang berasal dari subbenua tersebut karenanya menjadi layak untuk diterjemahkan, dibaca, dan diteliti. Dalam konteks inilah Carmen Balcells dengan antuasiasme menggebu-gebu mempromosikan sastra Amerika Latin sebagai sastra kelas dunia yang sudah waktunya dibaca oleh pembaca di Dunia Pertama.

Carmen Balcells dijuluki “la dueña del boom” (induk semang boom sastra Amerika Latin) oleh majalah Clarín,[4] dan sungguh tak salah, karena sebagai agen sastra ia memang bersikap bak “ibu kos” bagi para penulisnya: cerewet, bawel, namun penuh perhatian. Donoso mengenang pesta Tahun Baru 1970, di mana Julio Cortázar berjoget tidak karuan, Vargas Llosa dan istrinya berdansa walsa Peru, García Márquez dan istrinya menari merenque, sementara Carmen Balcells hanya duduk santai di sofa empuk sambil terus mengudap dan “mempelajari kami: barangkali dengan rasa kagum, barangkali dengan rasa lapar, barangkali dengan paduan keduanya.”[5] Ia berjaga agar mereka tak kelewat mabuk.

Pada akhir 1970-an, ketika Vargas Llosa terpaksa menjadi dosen tamu di King’s College untuk menyambung hidup, dan dengan demikian merintangi kerja penulisannya, Balcells menyuruhnya pindah ke Barcelona agar bisa berkonsentrasi menulis dan mengganti upah yang didapatnya sebagai dosen. Dan saat Camilo José Cela di usia senjanya sudah tak sanggup lagi menulis, Balcellslah yang menopang hidupnya. Ia juga memberi dukungan moril pada Ana María Matute agar sembuh dari depresi, yang lantas memungkinkannya merampungkan novel terbaiknya, Olvidado rey Gudú (1996). “Ya, ya, ya… Para penulis ini memang aneh-aneh,” Balcells mengenang.[6] Juan Goytisolo sering meneleponnya untuk curhat soal rumah tangga dan García Márquez bahkan bertanya usil padanya, “Carmen, kau mencintaiku?” “Aku susah menjawabnya, sepertiga pemasukanku berasal darimu.”

Mario Vargas Llosa dan Carmen Balcells
(Foto: Quique García / El Mundo)

Namun yang paling membuat Carmen Balcells menjadi legenda adalah kegigihannya dalam memperjuangkan mati-matian hak para penulis. Carmen Balcells menghentikan praktik-praktik “kontrak seumur hidup” yang jamak terjadi dalam dunia penerbitan zaman itu. Novelis Katalunya Manuel Vázquez Montalbán menyebutnya sebagai la liberadora de autores (pembebas para penulis): “Sebelum ada dia, penulis meneken kontrak seumur hidup dengan penerbit, menerima royalti yang amat menyedihkan besarannya, dan kadang, sebagai hadiah, dikado baju hangat atau keju.”[7]

Menulis ini, saya jadi teringat Drs. Suyadi (Pak Raden) yang kini di usia senjanya hidup serba berkesusahan tanpa memperoleh sedikit pun royalti dari serial Unyil yang ia ciptakan sendiri, karena kontrak dengan PFN dengan sangat tidak adil tidak mencantumkan batasan waktu kapan lisensi yang dipegang PFN berakhir.

Banyak penulis merasa berutang budi pada Balcells. García Márquez menjulukinya penuh takzim “Mamá Grande” (Mama Besar), yang lantas dijadikan salah satu tokoh cerpennya dalam Los funerales de la Mamá Grande. José Donoso dalam novel El jardin de al lado menggambarkan pribadi Balcells sebagai agen sastra tak kenal ampun dalam diri tokoh bernama Núria Monclús. Uniknya, Isabel Allende mengaku memutuskan mengirimkan naskah La casa de los espíritus ke Carmen Balcells –setelah ditolak semua penerbit di Amerika Latin—setelah membaca novel Donoso tersebut.[8] Allende mendedikasikan novel Retrato en Sepia juga kepada Balcells.

Namun tentu tak semua pihak memandang positif pengaruh Balcells pada sastra Amerika Latin dan sastra berbahasa Spanyol secara lebih luas. Terutama dari pihak penerbit. Pada 1960-an itu, seperti ditulis Mario Vargas Llosa, kegigihan Balcells dalam membela hak-hak penulis membuatnya dituding oleh penerbit sebagai “pengkhianat, matre, mata duitan, pembantai sastra, dan ribuan julukan tak sedap lainnya.”[9]

Mayder Dravasa misalnya, dalam kajiannya tentang masa-masa boom di Barcelona ini, menyebut bahwa tuntutan-tuntutan Balcells banyak merugikan penerbit dan menciptakan ekspektasi-ekspektasi dalam diri para penulis yang sesungguhnya tidak bisa dipenuhi oleh pasar pada saat itu.[10] Dravasa mencontohkan, ketika Balcells menuntut uang muka 40.000 peseta, ini artinya penerbit harus bekerja keras menjual ratusan ribu eksemplar, angka yang mustahil bagi pasar zaman itu. Namun Dravasa tidak menjelaskan dakwaannya lebih lanjut dalam hitung-hitungan ekonomis: benarkah tuntutan Balcells merugikan penerbit? Bukankah Alfaguara dan Barral (saat itu Seix-Barral), dua penerbit yang menjadi langganan Balcells saat itu, kini menjadi penerbit-penerbit terbesar di Spanyol, bahkan termasuk penerbit besar di dunia? Tidakkah ini –paling tidak sebagiannya—dikarenakan oleh dampak larisnya karya-karya el boom? Vargas Llosa mencatat ironinya di sini: bila pada masa boom Balcells memperjuangkan royalti tinggi karena yakin akan mutu sastra para penulisnya, sekarang ini justru banyak penulis pemula dengan karya medioker berharap bisa ditangani oleh Balcells justru karena impian akan tingginya perolehan royalti itu.[11]

Uniknya lagi, ketika tugas seorang publisis kini lebih banyak dimaknai sebagai banyak bicara di sana-sini mewakili penulis, atau menggelar kuis-kuis, hadiah-hadiah, dan kegiatan-kegiatan yang kadang tak ada kaitannya dengan sastra, terasa janggal melihat Balcells justru sangat jarang tampil di depan media. Karenanya, wawancara yang saya kutip untuk esai ini dari majalah Clarín (September 2006) terbilang istimewa, karena terakhir kali Balcells mau diwawancarai adalah lebih dari 20 tahun sebelumnya oleh Carme Riera dari majalah Quimera. Apa alasannya? Balcells menjawab tegas bahwa kegiatan seorang agen bukanlah beriklan atau berhadapan muka langsung dengan publik. Publisitas harus tertuju pada penulis dan karyanya sendiri. Maka Sang Mama Besar pun menjadi besar karena memilih tetap di belakang layar.

Balcells telah menerima pelbagai penghargaan antara lain: gelar doktor Honoris Causa dari Universidad Autónoma de Barcelona (2005) dan Montblanc Award for Women (2006). Pada Mei 2000 Balcells mengumumkan diri pensiun, namun ibarat Steve Jobs yang kembali ke Apple setelah kinerja perusahaan itu terus menurun, demikian juga pada 2008 Balcells kembali bekerja mengetuai agensi sastranya setelah hengkangnya beberapa penulis ternama dari daftar kliennya, seperti penulis Kuba Guillermo Cabrera Infante, penulis Cile Roberto Bolaño, dan penulis Spanyol Daniel Vázquez Salles.

Pada 2010, Departemen Kebudayaan Spanyol membeli total arsip-arsip Carmen Balcells seharga tiga juta Euro—arsip-arsip yang terdiri dari 2.000 dus dan bila dijajarkan akan menjulur sepanjang 2,5 kilometer. Arsip ini baru bisa diakses publik pada November 2011 lalu, meski masih menjadi tarik ulur antara pemerintah pusat di Madrid dengan pemerintah otonom Katalunya di mana arsip tersebut hendak dirumahkan. Bagi penggemar sastra Amerika Latin secara umum, dan khususnya para peneliti sastra, arsip Balcells adalah harta karun. Banyak detail menarik bisa didapat untuk memperjelas dan memperkaya kajian-kajian tentang masa-masa boom.

Salah satu dokumen dari arsip Carmen Balcells: nota transfer sebesar AS$4.190
dari Balcells kepada Gabriel García Márquez untuk biaya tiket pesawat
Meksiko-Swedia dalam rangka acara penerimaan Hadiah Nobel 1982.

(koleksi: Departemen Kebudayaan Spanyol)

Kembali soal boom sastra, kadang saya mendapat pertanyaan (dan juga bertanya-tanya sendiri) mengapa sastra Indonesia tidak bisa melahirkan boom pada aras internasional seperti yang dilakukan oleh sastra Amerika Latin? Saya kira ada dua jawaban yang bisa disimpulkan dari sini. Pertama, seperti kata Fuentes, sastra adalah politik. Minat dunia internasional (katakanlah penerbitan berbahasa Inggris) pada sastra nasional suatu negara tampaknya berbanding lurus dengan minat dunia internasional pada negara tersebut secara ekonomi-politik (entah sebagai peluang atau sebagai ancaman).

Ambil Cina sebagai contoh. Apakah sebuah kebetulan belaka bahwa sastra Cina kontemporer dalam terjemahan Inggris merebak beberapa tahun belakangan ini, dengan angka penjualan yang fantastis? Sebutlah Wolf Totem karya Jiang Rong, The Good Women of China karya Xin Ran, Village of Stone karya Xiaolu Guo, The Right Bank of the Argun karya Chi Zijian, atau 13 Flowers of Nanjing karya Yan Geling. Apakah sebuah kebetulan belaka bahwa Cina menjadi tamu kehormatan di London Book Fair 2012, atau bahwa University of Oklahoma Press kini punya seri khusus “Chinese Literature Today”, atau bahwa penerbit-penerbit terbesar Inggris telah membentuk forum khusus China-UK Literature in Translation? Tentunya ini berkaitan dengan minat dunia internasional untuk mempelajari Cina seiring kekuatan ekonomi-politiknya yang kian menonjol.

Maka dari itu, sebagus apapun para penulis kita berkarya, selama secara ekonomi-politik Indonesia terus menjadi bulan-bulanan dalam percaturan politik internasional, sastra kita secara umum juga takkan dilirik. Satu atau dua karya mungkin berhasil terbit di negeri orang (seperti Bi wa Kizu-nya Eka Kurniawan atau Frische Knochen aus Banyuwangi-nya Agus R. Sarjono), namun boom secara umum tidak akan terjadi.

Kedua, belum ada upaya yang intens, sistematis, dan terorganisir untuk memasarkan karya-karya Indonesia ke luar negeri. Dalam mengikuti pesta-pesta buku internasional semacam Frankfurt Book Fair, penerbit Indonesia datang dengan tujuan utama berburu copyrights buku terjemahan, bukan menjual copyrights buku untuk diterjemahkan. Jadi, sinyalemen sejarawan Anthony Reid, “Indonesia adalah bangsa yang paling tidak efektif di dunia dalam menjelaskan dirinya kepada dunia,”[12] bisa jadi benar. Bila tak ada upaya intens memperkenalkan diri pada dunia –sebagaimana yang dilakukan Carmen Balcells pada sastra Amerika Latin—maka jangan terlalu berharap dunia akan bisa mengenal kita dengan sendirinya.


[1] José Donoso, Historia personal del “boom” (Barcelona: Editorial Anagrama, 1972), hlm. 10.
[2] Ibid., hlm. 48.
[3] Ibid., hlm. 34.
[4] Xavi Ayén, “Balcells, la dueña del boom: entrevista a Carmen Balcells,” Clarín, 29 Juli 2006.
[5] Donoso, op. cit., hlm.
[6] Ayén, op. cit.
[7] Dikutip dari Tereixa Constenla, “Los secretos de la Mamá Grande,” El País, 17 November 2011.
[8] Cerita ini didapat dari  Alejandro Herrero-Olaizola, The Censorship Files: Latin American Writers and Franco's Spain (New York: SUNY Press, 2007), hlm. 174-175.
[9] Mario Vargas Llosa, “El jubileo de Carmen Balcells,” El País, 20 Agustus 2000.
[10] Mayder Dravasa, The Boom in Barcelona: Literary Modernism in Spanish and Spanish-American Fiction 1950-1974 (New York: Peter Lang, 2005), hlm. 134.
[11] Vargas Llosa, op. cit.
[12] Anthony Reid, “Indonesia dan Dunia Sesudah 66 Tahun,” majalah Tempo, 14-20 November 2011.

Sabtu, 31 Maret 2012

Musik dan García Márquez

Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Ronny Agustinus dari artikel Rafael Lam di harian Granma Internacional, Havana, 22 Maret 2012. Rafael Lam adalah kolumnis musik Amerika Latin, sebelumnya pernah menulis “García Márquez y el bolero.”

Gambar diambil dari Mariana Solanet, ilustrasi: Héctor Luis Bergandi,
García Márquez para principiantes (Buenos Aires: Era Naciente SLR, 1999).

Tahun ini dunia merayakan ulang tahun ke-85 Gabriel García Márquez, sang ikon Amerika Latin. Untuk menghormati penulis Kolombia itu, Cien años de soledad (Seratus Tahun Kesunyian), novelnya yang terpenting, dirilis di internet.

Heriberto Fiorillo, seorang intelektual dan budayawan Kolombia, baru-baru ini mengunjungi Havana dalam pemutaran perdana film dokumenter La cueva itinerante o García Márquez y su grupo de Barranquilla (Jelajah Gua, atau García Márquez dan Gerombolan Barranquilla).

Dokumenter ini mengulas sekelompok kawan di seputar peraih Nobel Sastra 1982 itu, yang biasa bertemu di toko buku terkenal di Barranquilla pada 1940-an dan lantas pindah ke Kafe Sastra La Cueva pada 1954, tempat dilangsungkannya acara-acara sastra yang diikuti oleh García Márquez dan kawan-kawannya.

García Márquez menjalin ikatan dengan kelompok itu dan bolak-balik dari Cartagena ke Barranquilla sesering yang ia bisa. Lantas pada Januari 1950, sesudah terkena radang paru-paru, ia pindah kerja dari koran El Universal untuk menulis kolom harian di koran El Heraldo yang bermarkas di Barranquilla—kolom yang diberi judul “La jirafa” (“Jerapah”) dan ditandatangani dengan nama pena “Septimus”.

Dokumenter ini mengungkap nostalgia García Márquez saat mengenang zaman yang telah lampau itu. “Aku dengarkan The Beatles dengan rasa cemas tertentu, karena kurasa aku akan terus teringat-ingat mereka sepanjang sisa hidupku … itulah jebakan nostalgia, yang mencopot momen-momen pedih dari tempat semestinya dan memulasnya dengan warna lain, menggantikannya saat tak lagi terasa menyakitkan.”

“Ibarat dalam foto-foto lawas, yang tampak seperti diterangi oleh pendaran ilusif suasana bahagia, di mana hanya dengan rasa terkejut kita bisa melihat bagaimanakah kita saat masih muda. Che Guevara, saat mengobrol dengan pasukannya di seputar api unggun pada malam-malam perang, pernah berkata bahwa nostalgia dimulai dari makanan. Itu benar, tapi hanya ketika seseorang lapar. Sebaliknya, nostalgia selalu dimulai dengan musik. Sesungguhnya, masa lalu personal kita menjadi berjarak pada saat kita dilahirkan, tapi kita baru merasakannya saat musik usai diputar.”

Sang penulis memang gemar mengungkapkan kecintaannya akan musik. “Aku ini teman para penyanyi. Aku suka berkisar di antara para bintang. Saat bersama teman dekat tak ada yang lebih kusukai selain mengobrolkan musik. Aku punya lebih banyak rekaman daripada buku. Kutemukan mujizat bahwa segala sesuatu yang berbunyi adalah musik, mobil-mobil di jalan, klakson, suara-suara, segalanya. Musik adalah segala sesuatu yang berbunyi. Aku pecinta musik tulen, semboyanku selalu: satu-satunya hal yang lebih baik ketimbang musik adalah mengobrol soal musik. Aku terus meyakini hal ini sebagai kebenaran mutlak. Sudah kudengar karya musik sebanyak yang bisa kuperoleh. Di toko-toko musik New York kuborong rekaman-rekaman musik Karibia yang tidak bisa didapatkan di mana pun. Saat sedang menulis Cien años de soledad di Meksiko, kuputar Beatles sampai aus. Kudengarkan buat menstimulasi diri. Pendewaan nostalgia atas dekade yang menakjubkan itu.”

Karena sekarang García Márquez tidak bisa banyak bepergian, di keteduhan rumahnya di Meksiko ia dengarkan musik dari seluruh penjuru dunia. “Tentunya, musik favoritku yang berakar dari musik rakyat. Aku berkomitmen pada musik rakyat, dan sekalipun aku mungkin telah mencapai puncak ketenaran, aku tetaplah orang biasa, itulah hakikatku. Aku mengenal dan merasakan lingkungan kerakyatanku. Aku punya koleksi musik Karibia, sudah jelas itulah yang paling menarik minatku. Dari tembang-tembang Rafael Hernández dan Matamoros Trio, musik plena Puerto Rico, tabuh-tabuhan Panama. Irama polo dari Kepulauan Margarita di Venezuela, atau merengue Dominika. Dan tentunya, yang paling bersangkut paut dengan hidup dan buku-bukuku, lagu-lagu vallenato dari pesisir Kolombia. Cien años de soledad adalah sebuah vallenato raksasa. Aku mendapatkan akordion pertama saat masih belia, benar-benar pencerahan buatku. Baru kemudian kutemukan kesusastraan dan menyadari bahwa prosedurnya sama saja.”

Si penulis Kolombia ini juga memuji Daniel Santos, Armando Manzanero, dan Toña la Negra. “Pérez Prado yang abadi adalah salah satu idolaku yang paling awal dan paling awet, sebagaimana bisa dibuktikan dari arsip-arsip koran El Heraldo di Barranquilla, tempatku menulis artikel-artikel pertamaku. Aku punya ribuan lagu bolero, membicarakan musik tanpa membicarakan bolero sama artinya dengan tidak membicarakan apa-apa.”

Sebagai anak muda, si novelis ini menonton film-film dan pertunjukan Sarita Montiel dari Spanyol. “Tapi sekarang, bukan untuk mendengar lagi lagu-lagu zaman nenekku, tapi untuk terbenam dalam nostalgia akan masa-masa itu di Meksiko. Manakala kudengar ‘El ultimo cuplé’ di Barcelona, lagu-lagunya terdengar begitu menyayat sampai-sampai nyaris tak tertanggungkan buat perindu akut macam aku ini. Lebih dari nostalgia, aku mengalami suatu perasaan yang lebih dalam dan lebih memilukan: nostalgia akan nostalgia. Sudah menjadi takdir kita untuk hidup pada zaman ketika semua kenangan diabadikan. Semua ini mengajari kita untuk menghidupi nostalgia akan nostalgia, yang bisa meremuk hatimu.”

[ Baca esai García Márquez tentang Shakira, di sini ]

Kamis, 09 Februari 2012

Perang Dunia Keempat, oleh Subcomandante Marcos


“La cuarta guerra mundial”, Subcomandante Marcos (EZLN). Ceramah Marcos di hadapan Komite Sipil Pengawasan HAM Internasional di La Realidad, Chiapas, Meksiko, 20 November 1999. Transkripsi terbit pertama kali di La Jornada, Kamis, 23 Oktober 2001, dan dimuat ulang di Rebeldía no. 4 Februari 2003. Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Ronny Agustinus dan dimuat dalam Subcomandante Marcos, Kata adalah Senjata (Yogyakarta: Resist Book, 2005).


Restrukturisasi Perang
Seperti kita lihat, ada beberapa konstanta dalam apa yang dinamakan perang dunia, dalam Perang Dunia Pertama, Perang Dunia Kedua, dan apa yang kami sebut Perang Dunia Ketiga dan Keempat.

Salah satu dari konstanta-konstanta tersebut adalah penaklukan wilayah dan reorganisasinya. Bila Anda amati peta dunia, Anda bisa lihat adanya perubahan di akhir semua perang dunia, bukan cuma dalam penaklukan wilayah, tapi dalam bentuk pengorganisasiannya. Seusai Perang Dunia Pertama, ada peta dunia baru, sesudah yang Kedua, ada peta dunia lain lagi.

Pada penghujung perang yang dengan berani kami namai “Perang Dunia Ketiga”, yang oleh orang lain disebut Perang Dingin, penaklukan wilayah dan reorganisasi berlangsung. Secara luas bisa disebutkan bahwa keduanya berlangsung di akhir tahun ’80-an, dengan runtuhnya kubu sosialis Uni Soviet. Dan pada awal ’90-an, apa yang kami sebut Perang Dunia Keempat bisa terlihat.

Konstanta lainnya adalah penghancuran musuh. Seperti halnya terhadap Nazisme dalam Perang Dunia Kedua, dan dalam Perang Dunia Ketiga, terhadap segala sesuatu yang berbau Uni Soviet dan kubu sosialis sebagai opsi terhadap dunia kapitalis.

Konstanta ketiga adalah pengaturan wilayah taklukan. Pada waktu penaklukan wilayah tercapai, penting untuk menatanya agar hasil kemenangan bisa dibagi-bagi kepada kekuatan yang berjaya. Kami pakai istilah ‘penaklukan’ lumayan sering, karena kami berpengalaman soal ini. Negara-negara itu, yang sebelumnya menyebut diri mereka nasional, selalu berupaya menaklukkan orang Indian. Di luar konstanta-konstanta tersebut, ada serangkaian variabel yang berubah-ubah dari satu perang dunia ke perang dunia lainnya: strategi, aktor atau pihak-pihaknya, persenjataan yang digunakan, dan terakhir, taktiknya. Meski yang terakhir ini berubah-ubah, yang pertama tadi ada dan bisa diterapkan guna memahami suatu perang dan lainnya.

Perang Dunia Ketiga atau Perang Dingin berlangsung sejak 1946 (atau bila Anda suka, sejak pemboman Hiroshima tahun 1945) sampai 1985-1990. Inilah perang dunia besar yang terdiri dari banyak perang lokal. Sebagaimana dalam semua perang, pada akhirnya terjadi penaklukan wilayah dan penghancuran musuh. Selanjutnya, ia bergerak pada pengaturan wilayah taklukan dan reorganisasi kawasan. Para aktor perang dunia ini adalah: 1) dua negara adikuasa, Amerika Serikat dan Uni Soviet dengan satelitnya masing-masing; 2) mayoritas negara-negara Eropa; 3) Amerika Latin, Afrika, sebagian Asia dan Oseania. Negara-negara pinggiran berkisar seputar AS atau Soviet, sesuka keinginan mereka. Setelah adikuasa dan negara-negara pinggiran terdapat pemirsa dan korban, atau artinya: seisi dunia selebihnya. Dua negara adikuasa ini tidak selalu bertempur tatap muka. Mereka kerap melakukannya lewat negara-negara lain. Sementara negara-negara industri besar bergabung dengan salah satu blok, negara dan umat manusia selebihnya tampil sebagai pemirsa atau korban. Yang memberi watak perang ini adalah: 1) orientasi persenjataannya, dan 2) perang-perang lokal. Dalam perang nuklir, dua adikuasa ini bersaing guna melihat berapa kali mereka bisa menghancurkan dunia. Metode untuk meyakinkan lawan adalah dengan meng­hadapkannya pada kekuatan yang sangat besar. Pada saat yang sama, perang lokal berlangsung di mana-mana dan negara-negara adikuasa itu terlibat.

Hasilnya, sebagaimana kita semua tahu, adalah kalah dan hancurnya Uni Soviet, serta menangnya AS, yang di seputarnya kini mayoritas negara-negara besar berkumpul. Saat itulah apa yang kami namai “Perang Dunia Keempat” pecah. Dan di sini masalah timbul. Hasil dari perang sebelumnya mestinya sebuah dunia unipolar—satu negara tunggal yang mendominasi dunia tanpa pesaing. Tapi, guna membuatnya efektif, dunia unipolar ini harus mencapai apa yang dikenal sebagai “globalisasi.” Dunia harus dipahami sebagai wilayah taklukan luas dengan sebuah musuh yang terhancurkan. Penting kiranya untuk mengatur dunia baru ini, dan karenanya, mengglobalkannya. Maka mereka pun berpaling pada teknologi informasi, yang dalam perkembangan umat manusia sama pentingnya seperti penciptaan mesin uap. Komputer membolehkan orang berada di mana-mana secara simultan. Tidak ada lagi batas atau kekangan ruang dan waktu. Berkat komputerlah proses globalisasi dimulai. Pemisahan, perbedaan, Negara-negara-Bangsa, seluruhnya runtuh, dan dunia menjadi apa yang secara realistis dinamai kampung global.

Konsep yang mendasari globalisasi adalah apa yang kita sebut “neoliberalisme,” sebuah agama baru yang mengizinkan proses ini dilaksanakan. Dengan Perang Dunia Keempat ini, sekali lagi, wilayah-wilayah ditundukkan, musuh dihancurkan dan penaklukan wilayah dikelola.

Masalahnya adalah: wilayah apa yang ditaklukkan dan direorganisir, dan siapa gerangan musuhnya? Melihat bahwa musuh sebelumnya telah lenyap, kami katakan sekarang ini umat manusialah musuhnya. Perang Dunia Keempat menghancurkan umat manusia seraya globalisasi menguniversalkan pasar. Segala sesuatu yang manusiawi dan menentang logika pasar adalah musuh dan harus dihancurkan. Dalam pengertian ini, kita semuanya musuh untuk dimusnahkan: orang adat, orang non-adat, pengawas HAM, kaum guru, cendekiawan, seniman. Setiap orang yang meyakini dirinya bebas padahal tidak.

Perang Dunia Keempat ini menggunakan apa yang kami sebut “destruksi.” Wilayah dihancurkan dan dikosongkan. Saat perang dilancarkan, tanah harus dihabisi, diubah jadi gurun. Bukan karena semangat merusak, tapi guna membangun dan menatanya kembali. Apa masalah utama yang dihadapi dunia unipolar ini dalam mengglobalkan dirinya sendiri? Negara-Bangsa. Perlawanan, budaya, tiap-tiap cara kekerabatan sebuah bangsa, apa-apa yang membuatnya berbeda. Bagaimana mungkin kampung ini bisa global dan setiap orang bisa sama bila ada begitu banyak perbedaan? Waktu kami katakan perlu kiranya untuk menghancurkan Negara-Bangsa dan mengubahnya jadi gurun, itu bukan berarti menyingkirkan rakyat, tapi menyingkirkan cara keberadaan rakyat. Setelah menghancurkan, orang harus membangun. Membangun kembali wilayah dan memberi mereka tempat yang lainnya. Tempat yang diputuskan oleh hukum pasar. Inilah yang menggerakkan globalisasi.

Rintangan pertama adalah Negara-Bangsa: mereka harus digempur dan dihancurkan. Segala sesuatu yang membuat negara itu “berbangsa” harus dihancurkan: bahasa, budaya, ekonomi, kehidupan politik, dan jaringan sosialnya. Bila bahasa-bahasa nasional tidak lagi terpakai, mereka harus dihancurkan, dan sebuah bahasa baru harus digencarkan. Bertentangan dengan apa yang orang pikir, bahasa itu bukanlah Inggris, tapi komputer. Semua bahasa harus dibikin sama, diterjemahkan ke dalam bahasa komputer, Inggris sekalipun. Semua aspek kultural yang membuat seorang Perancis jadi Perancis, seorang Italia jadi Italia, seorang Denmark jadi Denmark, seorang Meksiko jadi Meksiko, harus dihancurkan, karena merekalah penghalang yang mencegahnya memasuki pasar global. Ini bukan lagi perkara membuat satu pasar untuk orang Perancis, dan satu lagi untuk orang Inggris atau Italia. Harus ada satu pasar tunggal, di mana orang yang sama bisa mengkonsumsi produk yang sama di tempat manapun di dunia, dan di mana orang yang sama ini bertindak laiknya warga dunia, bukan lagi warga Negara-Bangsa.

Itu berarti sejarah budaya, sejarah tradisi, bertabrakan dengan proses ini dan menjadi musuh Perang Dunia Keempat. Hal ini menjadi perkara serius terutama di Eropa, di mana terdapat bangsa-bangsa dengan tradisi besar. Kerangka kultural orang Perancis, Italia, Inggris, Jerman, Spanyol, dll –segala sesuatu yang tidak bisa diterjemahkan ke dalam komputer dan istilah-istilah pasar—menjadi kendala bagi globalisasi ini. Barang-barang disirkulasikan lewat saluran-saluran informasi, dan segala sesuatu lainnya harus dihancurkan atau disisihkan. Negara-Bangsa punya struktur ekonominya sendiri serta apa yang disebut “kelas borjuasi nasional”—kaum kapitalis dengan markas dan laba nasional. Ini tidak boleh ada lagi: bila ekonomi diputuskan pada tingkat global, kebijakan-kebijakan ekonomi Negara-Bangsa yang mencoba melindungi modalnya menjadi musuh yang harus ditundukkan. Kesepakatan Perdagangan Bebas, serta kesepakatan yang membuahkan Uni Eropa, uang Euro, merupakan gejala-gejala pengglobalan ekonomi, meski pada mulanya ini adalah globalisasi regional, sebagaimana kasus Eropa. Negara-Bangsa membangun relasi politiknya sendiri, tapi kini relasi politik tidak lagi berguna. Aku tidak mencirikan ini baik atau buruk. Masalahnya adalah hubungan-hubungan politik ini menjadi perintang bagi terwujudnya hukum-hukum pasar. Kelas politik nasional sudah usang, tidak lagi berguna, harus diubah. Mereka mencoba mengingat, mereka mencoba mengingat nama negarawan di Eropa satu saja. Sama sekali tidak bisa. Tokoh terpenting di Eropa zaman Euro adalah orang-orang macam presiden Bundesbank, seorang bankir. Apa yang ia ucapkan akan menentukan kebijakan bermacam presiden dan perdana menteri yang diberlakukan di negara-negara Eropa.

Bila jalinan sosial koyak, hubungan-hubungan lama solidaritas yang memungkinkan adanya koeksistensi dalam sebuah Negara-Bangsa juga retak. Ini sebabnya kampanye menentang homoseksual dan lesbian, melawan imigran, atau kampanye xenofobia, meruyak. Segala sesuatu yang sebelumnya menjaga kesetimbangan harus dihancurkan sampai titik tertentu ketika perang dunia ini menggempur Negara-Bangsa dan mengubahnya jadi sesuatu yang berbeda.

Ini persoalan homogenisasi, membuat tiap orang sama, dan menghegemonikan sebuah gaya hidup. Inilah kehidupan global. Hiburan terbesarnya harus komputer, kerjanya harus komputer, nilainya sebagai manusia harus diukur dari jumlah kartu kreditnya, daya beli seseorang, kapasitas produktifnya. Kasus yang menimpa kaum guru cukup jelas dalam hal ini. Orang yang punya pengetahuan paling banyak atau yang paling bijak tidak lagi berharga. Kini orang yang menghasilkan paling banyak risetlah yang berharga, dan dengan itulah gajinya, beasiswanya, dan kedudukannya di universitas diputuskan.
Ini banyak terkait dengan model Amerika Serikat. Toh ternyata, Perang Dunia Keempat juga menghasilkan efek berkebalikan, yang kami sebut “fragmentasi.” Dunia, secara paradoksal, tidaklah menyatu, malah pecah jadi banyak kepingan. Meski bisa diasumsikan bahwa warga dibikin setara, perbedaan sebagai perbedaan pun meruyak: homoseksual dan lesbian, kaum muda, imigran. Negara-Bangsa berfungsi sebagai suatu Negara besar, wilayah-masyarakat-anonim yang memecah kita berkeping-keping.

Bila Anda cermati peta dunia pada periode ini –berakhirnya Perang Dunia Ketiga—dan menganalisa delapan tahun terakhir, sebuah proses restrukturisasi sedang berlangsung, terutama –tapi bukan hanya—di Eropa. Di mana dulu ada satu negara, kini ada banyak negara. Peta dunia retak sudah. Inilah efek paradoksal yang berlangsung gara-gara Perang Dunia Keempat itu sendiri. Alih-alih mengglobal, dunia malah terpecah-pecah, dan terlepas dari mekanisme hegemoni dan homogenisasi ini, kian lama kian banyak perbedaan yang muncul. Globalisasi dan neoliberalisme membuat dunia jadi sebuah kepulauan. Dan ia harus dibubuhi logika pasar. Kepingan-kepingan ini harus diorganisir jadi denominator bersama. Inilah yang kami sebut “bom finansial.”

Pada saat yang sama perbedaan-perbedaan ini muncul, perbedaan-perbedaan ini pun dilipatgandakan. Tiap anak muda punya gengnya sendiri, cara berpikirnya sendiri, seperti punk dan skinhead. Semuanya di tiap-tiap negara. Kini beda bukan cuma beda, tapi perbedaan mereka dilipatgandakan dan mencari identitasnya sendiri. Perang Dunia Keempat jelas tidak menawarkan sebuah cermin yang membolehkan mereka melihat dirinya sendiri sebagai denominator bersama. Ia menyuguhkan pada mereka cermin yang retak. Selama bisa mengontrol kepulauan ini (umat manusia ini), kekuasaan tidak akan terlalu kecewa.

Dunia pecah jadi banyak kepingan, besar dan kecil. Tak ada lagi benua dalam pengertian bahwa aku seorang Eropa, Afrika, atau Amerika. Yang ditawarkan oleh globalisasi neoliberal adalah jaringan yang dibangun oleh modal finansial, atau, bila Anda suka, oleh kuasa finansial. Bila terjadi krisis dalam persilangan ini, jaringan di luarnya akan meredam dampaknya. Bila terjadi kemakmuran di sebuah negara, ia tidak menghasilkan efek kemakmuran di negara-negara lainnya. Jadi, ini sebuah jaringan yang tidak berfungsi. Apa yang mereka ceritakan pada kita tentang ukuran dunia adalah dusta, pidato yang diulang-ulang oleh para pemimpin Amerika Latin, entah Menem, Fujimori, Zedillo, atau pemimpin-pemimpin lainnya dengan karakter moral yang meragukan. Sesungguhnya, yang sedang terjadi adalah jaringan ini membuat Negara-negara-Bangsa jadi kian ringkih. Sia-sia sebuah negara berjuang membangun ekuilibrium serta nasibnya sendiri sebagai bangsa. Segala sesuatu bergantung pada apa yang terjadi di sebuah bank di Jepang, atau apa yang diperbuat mafia di Rusia atau spekulan di Sydney. Dengan satu dan lain cara, Negara-Bangsa bukan diselamatkan, mereka dikutuk selamanya. Ketika sebuah Negara-Bangsa setuju untuk bergabung dalam jaringan ini –karena tak ada pilihan lain, karena mereka memaksanya, atau karena yakin—ia sedang meneken akta kematiannya sendiri.

Ringkas kata, yang diinginkan pasar raksasa tersebut adalah mengubah semua kepulauan ini menjadi pusat-pusat belanja, bukan bangsa. Orang bisa pergi dari satu negara ke negara lainnya dan menemukan produk yang sama. Tidak ada lagi bedanya. Di Paris atau di San Cristóbal de las Casas Anda bisa mengkonsumsi barang yang sama. Bila Anda di San Cristóbal de las Casas, Anda bisa secara simultan berada di Paris memperoleh berita. Inilah akhir Negara-Bangsa. Dan bukan cuma itu: inilah akhir umat manusia yang menyusunnya. Yang penting adalah hukum pasar, dan itulah yang menetapkan seberapa banyak Anda berproduksi, berapa hargamu, berapa banyak Anda beli. Martabat, perlawanan, solidaritas semuanya merecoki. Segala sesuatu yang mencegah seorang manusia berubah jadi mesin produksi dan konsumsi tergolong musuh, dan harus dienyahkan. Inilah sebabnya kami kata­kan spesies manusia adalah musuh Perang Dunia Keempat. Ia tidak menghancurkan secara fisik, tapi menghancurkan kemanusiaannya.

Secara paradoksal, dengan menghancurkan Negara-Bangsa, martabat, perlawanan, dan solidaritas justru terperbarui. Tak ada ikatan yang lebih kuat, lebih solid, ketimbang ikatan yang ada antara kelompok-kelompok yang berbeda: antar homoseksual, antar lesbian, antar kaum muda, antar migran. Perang ini, karenanya, berlanjut dengan menyerang juga mereka yang berbeda. Inilah yang dituju kampanye-kampanye itu, begitu kuatnya di Eropa dan Amerika Serikat, melawan mereka yang berbeda, karena mereka berkulit gelap, bicara bahasa yang lain, atau memiliki budaya yang berbeda. Cara untuk menyuburkan xenofobia dalam reruntuhan Negara-Bangsa ini adalah dengan menghadirkan ancaman: “Pendatang-pendatang Turki ingin merebut lapangan kerjamu.” “Imigran-imigran Meksiko da­tang buat memperkosa, mereka datang buat mencuri, mereka datang menabur kebiasaan buruk.” Negara-negara-Bangsa –atau segelintir yang tersisa dari mereka—mendelegasikan kepada warga dunia baru itu –komputer—peran untuk menyingkirkan imigran-imigran ini. Dan seketika itulah kelompok-kelompok macam Ku Klux Klan meruyak, atau orang-orang dengan kadar kejujuran macam Berlusconi bisa merebut kekuasaan. Mereka semua membangun kampanyenya berdasarkan xenofobia. Kebencian akan yang berbeda, penganiayaan terhadap apapun yang berbeda, kini mendunia. Tapi perlawanan dari segala yang berbeda ini juga mendunia. Dihadapkan pada agresi, perbedaan-perbedaan ini berkembang biak, mereka mengeras. Begitulah, aku tidak akan mencirikan ini baik atau buruk, inilah yang terjadi.

Subcomandante Marcos dalam Karavan Zapatista, 29 Januari 2006

Perang Bukan Cuma Militer
Dalam kaidah-kaidah militer yang ketat, Perang Dunia Ketiga punya logika. Pada intinya, ini adalah perang konvensional, dikonseptualkan sedemikian rupa sampai bila aku pasang tentara dan Anda pasang tentara, kita berhadapan satu sama lain, dan siapapun yang masih hidup menang. Ini berlangsung di suatu kawasan yang spesifik—dalam kasus NATO dan Pakta Warsawa, ialah Eropa. Berawal dari perang konvensional antar pasukan, sebuah jalan yang berorientasi militer dan persenjataan ditetapkan.

Kita akan lihat detil-detilnya sedikit lebih rinci. Ini misalnya [Marcos mengangkat senapan] adalah senjata semi-otomatis, disebut senapan mesin AR-15. Diproduksi untuk perang Vietnam dan bisa dibongkar dengan sangat gampang [ia mempretelinya], nah begini. Waktu mereka membuatnya, Amerika membayangkan skenario perang konvensional, artinya: kontingen militer besar berhadapan satu sama lain. “Kita kumpulkan banyak tentara, kita bergerak maju, dan akhirnya pasti ada yang tersisa.” Pada saat yang sama Pakta Warsawa mengembangkan senapan otomatis Kalashnikov, lazim disebut AK-47, senjata dengan volume tembak besar dalam jarak dekat, sampai 400 meter. Konsep Soviet melibatkan pasukan gelombang besar: segunung prajurit merangsek maju, menembak, dan bila mereka tewas, gelombang kedua dan ketiga akan tiba. Siapa yang paling banyak punya tentara akan menang.

Amerika kemudian berpikir: “Bedil Garand kuno dari Perang Dunia Kedua tidak berguna lagi. Kita kini butuh senjata yang punya daya tembak besar untuk jarak dekat.” Mereka bawa AR-15 dan mengujinya di Vietnam. Masalahnya adalah senjata itu rusak, tidak jalan. Sewaktu mereka menyerang Vietkong, mekanismenya membuka terus, dan waktu mereka menembakkannya, bunyinya “klik.” Dan itu bukan kamera, tapi senjata. Mereka mencoba memecahkan masalah dengan model M16-A1. Di sini akal-akalannya ada pada pelurunya, yang meminta dua hal berbeda. Satu, yang sipil, 2,223 inci—bisa dibeli di toko mana saja di AS. Yang lain –5,56 milimeter—eksklusif dipakai NATO. Ini peluru yang sangat kilat dan ada tipuannya. Dalam perang, tujuannya adalah melihat kerugian –bukan kematian—di pihak lawan, dan sebuah pasukan menganggap dirinya menderita kerugian bila seorang serdadu tidak sanggup lagi bertempur. Konvensi Jenewa –sebuah kesepakatan untuk memanusiawikan perang—melarang peluru ekspansif, karena pada titik ia masuk, ia merusak lebih banyak, dan jauh lebih mematikan ketimbang peluru tajam.

“Melihat bahwa tujuannya adalah meningkatkan jumlah yang terluka dan menurunkan jumlah yang tewas,” kata mereka, “kami melarang peluru ekspansif.” Sebuah tembakan peluru tajam membuat Anda tidak berkutik, Anda korban sekarang, tapi Anda tidak terbunuh kecuali mengenai organ vital. Guna mematuhi Konvensi Jenewa sekaligus mengakalinya, Amerika menciptakan peluru ujung lunak yang ketika memasuki tubuh manusia, berbelok dan melintir. Lubang masuknya seukuran ini, lubang keluarnya jauh lebih besar. Peluru ini lebih parah ketimbang peluru ekspansif, dan ia tidak melanggar konvensi. Toh demikian, bila mengenaimu di lengan... ia akan meledakkanmu. Sebutir peluru 162 menembusmu dan membuatmu terluka, tapi yang ini menghancurkanmu. Kebetulan, pemerintah Meksiko baru saja membeli 16.000 butir peluru ini.

Artinya, senjata ini dicipta untuk skenario-skenario khusus. Kita asumsikan mereka tak ingin memakai bom nuklir. Apa yang akan mereka pakai? Banyak tentara lawan banyak tentara. Maka doktrin-doktrin perang konvensional NATO dan Pakta Warsawa terciptalah.

Opsi kedua adalah perang nuklir lokal, perang dengan senjata nuklir tapi hanya di beberapa tempat dan tidak di lainnya. Ada kesepakatan antara kedua adikuasa ini untuk tidak saling menyerang di negeri mereka sendiri, dan bertempur hanya di wilayah netral. Tak perlu disebutkan bahwa wilayah ini adalah Eropa. Di situlah bom-bom akan berjatuhan dan orang akan melihat siapa yang masih tetap hidup di Eropa Barat serta apa yang dulu disebut Eropa Timur.

Opsi terakhir Perang Dunia Ketiga adalah perang nuklir total, yang jadi bisnis besar, bisnis abad ini. Logika perang nuklir adalah tak ada yang jadi pemenangnya. Bukan masalah siapa yang menembak lebih dulu, tak soal seberapa cepat ia menembak, pihak sana akan bisa menembak pula. Kehancurannya timbal balik, dan dari sejak semula, opsi ini jelas ditolak. Sifat inilah yang dalam istilah diplomasi militer disebut “tangkisan.”

Jadi agar Soviet tidak memakai senjata nuklir, Amerika mengembangkan banyak senjata nuklir, dan agar mereka tidak memakai senjata nuklir, Soviet mengembangkan banyak senjata nuklir, begitu seterusnya. Mereka menyebutnya Misil Balistik Antarbenua, roket-roket yang meluncur dari Rusia ke Amerika Serikat dan dari Amerika Serikat ke Rusia. Harganya mahal dan kini tidak berguna buat apa-apa lagi. Ada pula senjata-senjata nuklir lainnya untuk penggunaan lokal yang akan mereka pakai di Eropa dalam kasus perang nuklir lokal.

Tatkala fase ini mulai, tahun 1945, ada perang yang harus diperjuangkan sebab Eropa terbelah dua. Strategi militernya –kita bicara murni aspek-aspek militernya—adalah sebagai berikut: ada beberapa posisi menyerang di seberang garis musuh, ada satu lini logistik permanen, serta ada tanah-air, bernama Amerika Serikat atau Uni Soviet. Lini logistik menyuplai posisi-posisi depan. Pesawat-pesawat besar yang ada di udara 24 jam sehari, B-52 Fortress, mengusung bom-bom nuklir, dan mereka tak perlu harus mendarat. Ada juga pakta-pakta. Pakta NATO, Pakta Warsawa, dan SEATO (South East Asia Treaty Organization), yang seperti NATO untuk negara-negara Asia. Model ini dimainkan dalam perang-perang lokal. Segala sesuatunya punya logika, dan sungguh logis untuk bertempur di Vietnam, yang merupakan skenario yang sudah disepakati. Tentara lokal dan kaum pemberontak mengambil posisi di seberang garis musuh. Logistik permanen diperankan oleh barisan penjual senjata legal maupun gelap, dan tanah-air diperankan oleh dua adikuasa tersebut. Ada pula kesepakatan mengenai tempat-tempat di mana mereka berdua tetap berlaku sebagai pemirsa. Contoh paling jelas dari perang lokal ini adalah kediktatoran Amerika Latin, konflik-konflik di Asia, terutama Vietnam, dan perang-perang di Afrika. Sepertinya ini sama sekali tidak punya logika apapun, karena mayoritas yang terjadi di zaman itu tidaklah dipahami. Tapi apa yang terjadi adalah bagian dari garis besar perang konvensional ini.

Selang periode inilah –dan ini penting—konsep “perang total” dikembangkan. Unsur-unsur yang bukan lagi bersifat militer memasuki doktrin militer. Umpamanya di Vietnam, sejak serbuan Tet (1968) sampai jatuhnya Saigon (1975), media sekali lagi menjadi medan tempur penting. Maka, gagasan untuk mengembangkan kejayaan militer dalam militer itu tidak lagi mencukupi. Penting kiranya untuk mengikutkan soal-soal lain, seperti media. Dan musuh juga bisa diserang dengan langkah-langkah ekonomi, dengan langkah-langkah politik dan dengan diplomasi, yang menjadi permainan PBB dan organisasi-organisasi internasional. Sebagian negara menciptakan sabotase guna memastikan kutukan dan cercaan terhadap negera-negara lainnya, yang disebut “perang diplomasi.”

Seluruh perang ini mengikuti teori domino. Kedengarannya konyol, tapi mereka seperti dua musuh bermain domino dengan penduduk dunia selebihnya. Salah satu pihak meletakkan kartunya, dan yang lain berupaya menaruh kartu guna memotong gerak lawan berikutnya. Adalah teori tokoh masyhur bernama Kissinger, Menteri Dalam Negeri AS selama era Vietnam, yang berkata: “Kita tidak bisa meninggalkan Vietnam karena itu berarti merelakan permainan domino di Asia Tenggara kepada pihak lain.” Dan itu sebabnya mereka melakukan apa yang mereka perbuat di Vietnam.

Ini juga bermaksud memadukan kembali logika Perang Dunia Kedua. Bagi sebagian besar penduduk, Perang Dunia Kedua heroik sifatnya. Ada gambar Angkatan Laut membebaskan Perancis dari kediktatoran, membebaskan Italia dari Il Duce, membebaskan Jerman dari militer, tentara merah masuk dari segala sisi. Perang Dunia Kedua dilancarkan dengan niat mengenyahkan sebuah bahaya bagi segenap umat manusia, bahaya nasionalisme-sosialis. Karenanya, dengan satu dan lain cara perang-perang lokal berupaya untuk menyatukan kembali ideologi “kami bertindak demi membela dunia yang bebas.” Tapi kini Moskow-lah yang memainkan peran nasionalisme-sosialis. Dan Moskow sendiri juga melakukan hal yang sama: kedua adikuasa ini mencoba memakai argumen “demokrasi” dan “dunia bebas” yang diusung masing-masing pihak.

Sesudah itu datang Perang Dunia Keempat, yang menghancurkan segala yang sudah-sudah, karena dunia tidak lagi sama, dan strategi yang sama tidak bisa diterapkan. Konsep “perang total” dikembangkan lebih jauh: ini bukan cuma perang di segala sisi, ini perang yang bisa terjadi di manapun, sebuah perang total di mana seisi dunia dipertaruhkan. “Perang total” berarti: kapanpun, di manapun, dalam situasi apapun. Pemahaman mengenai pertempuran di satu tempat tertentu tidak lagi berlaku. Sekarang pertempurannya bisa berlangsung kapan saja. Tak ada lagi konsep eskalasi konflik dengan ancaman-ancaman, perebutan posisi dan upaya reposisi diri. Di sembarang saat dan sembarang kesempatan, konflik bisa timbul. Mungkin saja problem domestik, mungkin saja diktator dan apa saja dari perang lima tahun terakhir ini, mulai Kosovo sampai Perang Teluk. Seluruh rutinitas militer Perang Dingin, karenanya, telah hancur.
Tidak lagi mungkin untuk menggelar perang dalam Perang Dunia Keempat ini di bawah kriteria yang Ketiga, sebab aku kini harus bertempur di manapun, aku tidak tahu ke mana akan berperang, tidak pula aku tahu kapan, aku harus bertindak cepat, aku bahkan tidak tahu dalam situasi macam apa aku akan melancarkan perang ini. Guna memecahkan masalah ini, militer awalnya mengembangkan perang “gerak cepat”. Contohnya adalah Perang Teluk, sebuah perang yang menyedot akumulasi kekuatan militer dalam periode waktu yang singkat, aksi militer besar-besaran dalam jangka pendek, penaklukan wilayah dan penarikan diri. Invasi Panama merupakan contoh lain gerak cepat ini. Sesungguhnya malah, di sana terdapat kontingen NATO yang disebut “satuan intervensi cepat.” Gerak cepat adalah kekuatan militer berjumlah besar yang menggempur musuh dengan tiada membeda-bedakan antara rumah sakit anak dengan pabrik senjata kimia. Inilah yang terjadi di Irak: bom-bom pintar itu ternyata bodoh, mereka tidak bisa membeda-bedakan. Dan di situlah mereka berakhir, sebab mereka sadar bahwa ini lumayan mahal, sementara sumbangannya sedikit sekali. Di Irak seluruh pasukan diterjunkan, tapi tak terjadi penaklukan wilayah. Ada masa­lah protes-protes lokal, ada pengawas HAM internasional.

Mereka harus mundur. Vietnam sudah mengajari mereka bahwa dalam kasus-kasus ini, tidak bijak kiranya untuk ngotot. “Tidak, kita tidak bisa lakukan ini sekarang,” kata mereka. Lantas mereka beralih pada strategi “proyeksi kekuatan.” “Lebih baik tempatkan terlebih dahulu pangkalan militer AS di seluruh dunia, mengakumulasi kekuatan besar skala benua, yang dalam hitungan jam atau hari akan punya kapasitas untuk memasang unit-unit militer di tempat manapun di dunia.” Dan mereka bisa, sesungguhnya, meletakkan sebuah divisi berisi empat atau lima ribu orang di titik paling jauh di planet ini dalam empat hari, lebih banyak dan terus lebih banyak lagi.

Tapi proyeksi kekuatan ini punya masalah bila diserahkan pada tentara lokal, atau persisnya: tentara AS. Mereka yakin bahwa bila konfliknya tidak tertuntaskan segera, kantung-kantung mayat (mereka yang mati) akan mulai berdatangan, seperti di Vietnam, dan ini bisa menyulut banyak protes di dalam negeri Amerika atau negara mana saja. Guna menghindari masalah-masalah itu, mereka sisihkan proyeksi kekuatan dan memakai –kita tegaskan ini—hitung-hitungan dagang. Mereka tidak membuat hitung-hitungan mengenai kerusakan tenaga manusia atau sumber daya alam, tapi tentang publisitas dan citra. Maka perang proyeksi pun dikesampingkan, dan berlanjut dengan model perang dengan tentara-tentara lokal, memakai lebih banyak bantuan internasional, lebih banyak badan supranasional. Sekarang bukan lagi mengirim tentara, tapi berperang lewat tentara yang sudah ada di sana, membantu mereka sesuai basis konfliknya, dan tidak memakai model sebuah bangsa yang mencanangkan perang, tapi badan supranasional seperti PBB atau NATO. Yang melakukan kerja kotornya adalah tentara-tentara lokal, sementara yang masuk surat kabar adalah Amerika dan bala bantuan internasionalnya. Inilah modelnya. Protes tidak lagi mujarab: ini bukan perang pemerintah Amerika Serikat. Ini perang oleh NATO, dan toh NATO melakukannya semata demi membantu PBB.

Di seantero dunia, terjadi restrukturisasi tentara agar mereka bisa menghadapi konflik lokal dengan bantuan internasional, di bawah selubung supranasional dan dengan samaran perang kemanusiaan. Ini berarti menyelamatkan penduduk dari genosida dengan cara membunuhnya. Dan inilah yang terjadi di Kosovo. Milosevich melancarkan perang melawan kemanusiaan: “Bila kita menentang Milosevich, kita membela kemanusiaan.” Inilah argumen yang dipakai jenderal-jenderal NATO dan yang membawa begitu banyak masalah pada kaum kiri Eropa: menentang pemboman NATO berarti mendukung Milosevich, kalau begitu lebih baik mendukung pemboman NATO. Sementara Milosevich, Anda tahu, dipersenjatai oleh Amerika Serikat. Konsepsi militer yang kini sedang dimainkan, adalah bahwa seisi dunia –entah Sri Lanka atau negara lainnya, yang terjauh yang bisa dibayangkan orang—kini merupakan halaman belakang, karena dunia global menghasilkan simultanitas. Dan itulah masalahnya: dalam dunia yang mengglobal ini, apapun yang terjadi di tempat manapun mempengaruhi tata internasional baru ini. Dunia bukan lagi dunia, tapi kampung, dan segala sesuatunya berada sangat dekat. Karenanya polisi-polisi besar dunia –terutama Amerika Serikat—berhak turut campur di manapun, kapanpun, dalam situasi apapun. Mereka bisa menganggap apa saja sebagai ancaman keamanan domestik mereka. Mereka bisa dengan mudahnya memutuskan bahwa pemberontakan adat di Chiapas mengancam keamanan domestik Amerika Utara, atau kelompok Tamil di Sri Lanka, atau apapun terserah Anda. Gerakan apapun –dan tidak serta merta harus bersenjata—di tempat manapun bisa dianggap ancaman bagi keamanan domestik.

Apakah yang telah terjadi? Strategi dan konsep-konsep kuno dalam menggelar perang runtuh sudah. Mari kita lihat.

“Panggung operasi” adalah istilah militer untuk mengindikasikan tempat di mana perang akan berlangsung. Dalam Perang Dunia Ketiga, Eropalah panggung operasinya. Kini tidak jelas di mana perang akan pecah, bisa di mana saja, tidak lagi pasti bahwa perang akan terjadi di Eropa. Doktrin militer bergeser dari apa yang disebut “sistem” menuju apa yang mereka sebut “fleksibilitas”. “Aku harus siap berbuat apa saja kapan saja. Sebuah rencana tidak lagi memadai: kini aku butuh banyak rencana, bukan cuma untuk membangun respons pada insiden-insiden tertentu, tapi untuk membangun banyak respons militer pada insiden-insiden yang spesifik.” Di sinilah teknologi informasi turut campur. Perubahan ini menghasilkan pergeseran dari yang sistematis, non-fleksibel, kaku, menuju yang fleksibel, menuju apa yang bisa berubah dari satu momen ke berikutnya. Dan ini akan merumuskan segenap doktrin baru ketentaraan, korps-korps militer, dan para prajurit. Inilah satu unsur dalam Perang Dunia Keempat. Yang lainnya adalah perpindahan dari “strategi pengepungan” menjadi strategi “mengulur waktu” atau “perpanjangan”: kini masalahnya bukan cuma menaklukkan wilayah, mengepung musuh, tapi juga memperpanjang konflik menjadi apa yang mereka sebut “aksi-aksi non-perang.” Dalam kasus Chiapas, ini berkaitan dengan bongkar pasang kepala pemerintah daerah dan wilayah, dengan HAM, dengan media, dll.

Termasuk dalam konsepsi militer baru ini adalah intensifikasi penaklukan wilayah. Artinya, penting untuk tidak cuma mengurusi EZLN dan kekuatan militernya, tapi juga gereja, LSM, pengamat internasional, pers, penduduk sipil, dll. Tak ada lagi penduduk sipil dan kaum netral. Seisi dunia adalah bagian dari konflik.

Implikasinya adalah tentara-tentara nasional tidak lagi berfaedah, karena mereka tidak lagi mempertahankan Negara-Bangsa. Bila tidak ada Negara-Bangsa, apa yang akan mereka bela? Di bawah doktrin baru, tentara-tentara nasional jadinya memainkan peran polisi lokal. Kasus Meksiko cukup jelas: Tentara Meksiko makin lama makin banyak menggarap kerja kepolisian, seperti memerangi perdagangan narkoba. Badan baru untuk mengatasi kejahatan terorganisir bernama Polisi Preventif Federal tersusun dari personil-personil militer. Ini soal tentara nasional yang berubah jadi polisi lokal dengan gaya buku komik AS: a Super Cop, Polisi Super. Ketika tentara di bekas Yugoslavia direorganisir, mereka berubah jadi satuan polisi lokal, dan NATO menjadi Polisi Supernya, mitra seniornya dalam istilah politik. Pemeran utamanya adalah badan supranasional (dalam hal ini NATO atau tentara AS), dan pemeran-pemeran pembantunya adalah tentara-tentara lokal.

Tapi tentara nasional didirikan dengan dasar doktrin “keamanan nasional.” Bila ada musuh atau bahaya pada keamanan suatu bangsa, tugas merekalah untuk menjaga keamanan, kadang melawan musuh dari luar, kadang melawan musuh-musuh domestik yang menciptakan destabilisasi. Inilah doktrin Perang Dunia Ketiga atau Perang Dingin. Di bawah asumsi-asumsi ini, tentara-tentara nasional mengembangkan suatu kesadaran nasional yang membuat mereka sulit diubah jadi mitra kepolisian Sang Polisi Super. Maka doktrin keamanan nasional kini harus diubah jadi “stabilitas nasional.” Masalahnya bukan lagi membela bangsa. Karena musuh utama stabilitas nasional adalah perdagangan narkoba, dan perdagangan narkoba bersifat internasional, maka tentara-tentara nasional yang beroperasi di bawah panji stabilitas nasional pun menerima bantuan atau campur tangan internasional dari negara-negara lain.

Problem menata kembali tentara-tentara nasional berlangsung di aras dunia. Kini kita ke Amerika, dan dari situ ke Amerika Latin. Prosesnya sedikit mirip dengan yang berlangsung di Eropa dan yang terlihat di perang Kosovo dengan NATO. Dalam kasus Amerika Latin, ada Organisi Negara-negara Benua Amerika (OAS) dengan Sistem Pertahanan Hemisfer. Menurut mantan presiden Argentina, Menem, seluruh negara Amerika Latin terancam dan kita perlu bersatu, menghancurkan kesadaran nasional tentara dan membentuk ketentaraan maha­besar di bawah doktrin sistem pertahanan hemisfer, dengan dalih perdagangan narkoba. Melihat bahwa yang dipertaruhkan adalah fleksibilitas –atau kapasitas untuk berperang kapan saja, di mana saja, dan di bawah kondisi apa saja—gladi resik pun dimulai. Sekelumit benteng pertahanan nasional yang masih ada harus dihancurkan oleh sistem hemisfer ini. Bila ada Kosovo di Eropa, di Amerika Latin ada Kolombia dan Chiapas. Bagaimana sistem pertahanan hemisfer ini dibangun? Dengan dua cara. Di Kolombia, di mana ancaman peredaran narkoba memang nyata, pemerintah meminta uluran tangan setiap orang: “Kita harus turut campur karena perdagangan narkoba bukan hanya mempengaruhi Kolombia, tapi seisi benua.” Dalam kasus Chiapas, konsep perang total dijalankan. Semua orang ambil bagian, tak ada pihak netral, entah kau jadi sekutu atau kau jadi musuh.

Penaklukan Baru
Dalam proses fragmentasi ini –mengubah dunia menjadi kepulauan—kuasa finansial ingin membangun pusat belanja baru yang memiliki turisme dan sumber daya alam di Chiapas, Belize, dan Guatemala.

Selain penuh minyak bumi dan uranium, masalahnya adalah Chiapas penuh penduduk adat. Dan orang-orang adat ini, selain tidak berbahasa Spanyol, juga tidak menginginkan kartu kredit. Mereka tidak berproduksi, mereka menanam jagung, kacang, cabe, kopi, dan mereka membayangkan menari dengan iringan marimba bukannya memakai komputer. Mereka bukan konsumen bukan pula produsen. Mereka tak berguna. Dan apapun yang tak berguna boleh dihabisi. Tapi mereka tak mau pergi, dan mereka tidak mau berhenti sebagai orang adat. Ada lagi: perjuangan mereka bukan untuk merebut kekuasaan. Perjuangan mereka adalah untuk diakui sebagai orang Indian, agar hak mereka untuk eksis diakui, tanpa harus berubah jadi orang lain.

Masalahnya di sini, di tanah yang sedang berperang, di kawasan Zapatista, terdapat budaya-budaya adat utama, ada berbagai bahasa dan cadangan minyak terbesar. Ada tujuh masyarakat Indian yang turut serta dalam EZLN: suku Tzeltal, Tzotzil, Tojolabal, Chol, Zoque, Mam, dan mestizo. Inilah atlas Chiapas: komunitas-komunitas dengan populasi adat juga dengan minyak, uranium, serta kayu-kayuan berharga. Bagi neoliberalisme segala sesuatu adalah barang dagangan, dijual, dieksploitir. Dan orang-orang adat ini datang untuk berkata tidak, bahwa tanah adalah ibu, tempat pelestarian budaya, bahwa sejarah hidup di sini, dan yang mati hidup di sini. Jelas perkara-perkara absurd ini tidak bisa masuk ke komputer dan tidak terdaftar di bursa saham manapun. Dan tak ada cara buat meyakinkan mereka untuk berlaku baik, untuk belajar berpikir benar, mereka jelas-jelas tidak mau. Mereka bahkan mengangkat senjata. Inilah sebabnya kami katakan bahwa pemerintah Meksiko tidak ingin berdamai: karena mereka ingin menyingkirkan musuh ini dan mengubah tanah ini jadi gurun, sesudah itu mereorganisirnya dan menyetelnya agar beroperasi seperti pusat belanja raksasa, sebuah mal di Meksiko Tenggara. EZLN menyokong penduduk Indian, dan dengan begitu juga merupakan musuh, tapi bukan yang utama. Tidak cukup kiranya untuk menuntaskan masalah dengan EZLN, malah lebih parah bila menuntaskan masalah dengan EZLN berarti meninggalkan tanah ini, karena itu berarti perdamaian di Chiapas dan menyudahi penaklukan wilayah yang kaya minyak, kayu-kayuan berharga, dan uranium. Itu sebabnya mereka belum melakukannya dan tidak akan melakukannya.